Oleh: Moh. Iqbal Zulfikri Pasisingi

Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh.

Bismillaahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillaahi Robbil ‘aalamiin, wassolaatu wassalaamu ‘alaa asyrafil ambiyaai wal mursaliin, wa ‘alaa aali Muhammadin wa ashaabihil mujahidinattohiriina ‘amma ba’du.

Dewan juri yang terhormat, dan

Saudara–saudara kaum Muslimin wal Muslimat yang dirahmati Allah swt

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah swt, karena dengan izin–Nya lah kita dapat bertemu di tempat yang mubarokah ini. Shalawat serta salam kita haturkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW,para sahabat, keluarganya dan insya Allah swt sampai kepada kita yang masih memegang teguh ajarannya.

Saudara–saudara kaum Muslimin Rahimakumullah

Kita ma’lum bahwa sholat merupakan sarana yang paling efektif untuk medekatkan manusia kepada Allah. Makin dekat manusia dengan Allah, makin tidak senang iblis dan setan. Karena itu segala macam cara mereka berusaha mengaduk–aduk sholat kita. Dan sesungguhnya jikalau kita mengerjakan sholat, itu kan targetnya cuma 2; pertama, agar sholat kita itu sah; yang kedua agar sholat kita itu qobul yakni diterima oleh Allah. Kalau soal sah dan tidak ada ukurannya gampang. Saya kalau ditanya orang, dik sholat saya sah atau tidak? Saya bisa jawab, sudara sholat syarat rukunnya cukup apa tidak? Cukup sah. Itu akalu perkara sah. Tapi kalau sudah perkara qobul, dik sholat saya ditrima Allah apa tidak? Wah ini saya tidak bisa jawab. Kenapa? Soal qobul mencakup masalah batin, Cuma ukuran logikanya; kalo syarat rukun cukup, Insya Allah Qobul.

Saudara–saudara kaum Muslimin Rahimakumullah

Oleh karenanya pada saat kita sholat, iblis setan datang dari segala macam penjuru supaya kita kehilangan rasa khusyu’. Apalagi kalau kita jadi imam, yang gerak kita, bacaan kita, dilihat, di dengar, disaksikan oleh orang banyak, digodanya gerakan kita, dibolak baliknya hati kita supaya di dalam sholat banyak yang kita ingat hal–hal yang tidak ada hubungannya dengan sholat. Kadang–kadang belum sholat kita ribuut nyari pulpen, ngga’ ketemu, begitu takbir ingat pulpen diatas lemari. Mulai goncang niat kita sholat. Kadang-kadang kalau hati kita tidak bisa di permainkan, iblis berbisik lagi. Gerakan kita dalam sholat tidak mencerminkan kekhusyu’an. Kalau gerak  juga ternyata masih bisa khusyu’, bacaan kita dibuatnya kita seperti dikejar-kejar waktu. Sholat Isya’ misalnya dengan cara kilat khusus, super singkat. Saya katakan tadi, apalagi kalau kita jadi Imam. Iblis mudah mendatangkan penyakit riya’, karna mengimami orang banyak, lalu supaya dikira ‘alim, dibuatlah sholatnya itu mantep–mantep. Surohnya dicari yang panjang–panjang, paling pendek sabbihi sama wadldluha. Tapi kalau sudah sholat sendirian, cukup innaa a’toynaa kal kautsar sama Qul huwallahu ahad. Kaya’nya khusyuuu’ bukan main, kalo imam. Bahasanya di faseh–fasehin, kaya’ orang 16 tahun di Mekkah. Usholli fardlolmagribi tsalatsa rokaaaatin.

Saudara–saudara kaum Muslimin yang berbahagia.

Oleh karna sholat merupakan sarana yang paling efektif untuk mendekatkan diri dengan Allah swt, maka orang yang khusyu’ didalam sholatnya merupakan musuh utama daripada iblis. Sekarang bagaimana bisa khusyu’? caranya; kalo khusyu’ 100%, rasa–rasanya sulit. Untuk sampai ke arah sana orang memerlukan tahapan. Kepada imam Ali karamallahu wajhah, baginda Nabi pernah memberikan satu teskes:

“Ali?”,

“Saya ya Rosul”,

“Kalo kau bisa sholat 2 rakaat saja dengan khusyu’, aku kasih hadiah sorban”

“Baik ya Rosul”

Sembahyang imam Ali. Dua rakaat. Selesai sholat, Assalaamu ‘alaikum, Assalaamu ‘alaikum. Rosul bertanya: “Yang mana sorbannya Li’?

Tanpa nengok, imam Ali menjawab “Yang ijo ya Rosul”. Setelah  menjawab yang ijo, Rosul berkata, “kamu tidak khusyu’ Li’. Kenapa?

Soalnya tadi, waktu sembahyang mikirin. Nanti kalo ditawarin sorban pilih yang ijo aja ah. Sehingga begitu ditanya, reflek menjawab; yang mana Li’?. Yang ijo saja ya Rosul.

Saudara–saudara kaum Muslimin yang berbahagia.

Oleh karena itu, menurut Al–imam Nawawi; pada tingkatan yang paling sederhana, sudah sampai ke tigkat khusyu’ asal pada waktu takbiratul ihram ingat kepada Allah swt. Tapi jangan lupa, itu tangga pertama. Jangan ada fatwa begini lalu amaan. Yang penting kan takbirnya ingat Tuhan, seblah sananya mau kemana ke’. Bukan itu. Itu pada tingkatan pertama. Sudah sah dipandang khusyu’ sholatnya orang awam, asal pada waktu takbiratul ihram dia ingat kepada Allah swt. Tetapi harus terus berusaha agar sepanjang sholat dia ingat Allah swt. Caranya bagaimana?

Pertama, mananamkan diri bahwa pada saat kita sedang mengerjakan sholat yang lain tidak ada kecuali Allah swt. yang kedua, berusaha memahami apa yang kita baca. Sehingga pada saat kita sujud; Subhana robbiyal a’la wabihamdih. Terbayang kemahasucian Allah swt, kemaha tinggian Allah swt, sehingga hati tidak mengembara. Mulut berucap, hati mengikuti apa yang diucapkan. Yang kadang–kadang membuat hati kita jalan–jalan. Badan di mesjid, badan takbir, badan ruku’, tapi hati di pasar, hati di kantor, hati di pabrik. Karna yang kita ucapkan tidak berakar di hati. Yang kita baca, kita ngga’ tau artinya. Sangat boleh jadi hati lalu mengembara kemana–mana. Jadi untuk menopang kekhusyuan ini, cara yang paling efektif pertama; tidak ada yang lain pada waktu kita sholat kecuali Allah swt, yang kedua berusaha memahami apa yang kita baca. Dikala kita duduk diantara dua sujud, robbigfirli; Yaa Allah swt ampuni dosa saya. Warhamni; kasihani saya, dan selanjutnya. Mulut membaca hati mengikuti. Dengan mengikuti hati tidak terlalu mengembara. Ada tempat dia kembali.

Dewan juri yang terhormat, dan Saudara–saudara kaum Muslimin yang berbahagia.

inilah yang kita bicarakan pada pertemuan ini, mudah–mudahan ada manfaatnya, trima kasih atas segala perhatian. mohon maaf atas segala kekurangan. Billaahi fii sabiililhaq fastabiqul khairat, wassalaamu ‘alaikum warohmatullaahi wabarakaatuh.